Senin, 18 Mei 2015

Berpeluh di Tanah Guntur


"Gunung guntur memiliki ketinggian 2.249 Mdpl. Merupakan salah satu gunung api aktif yang berada di kabupaten Garut. Gunung ini pertama didaki oleh pendaki berkebangsaan prusia – Jerman, Frans Junghun pada tahun 1837. Pada saat itu Junghun memasukkan gunung ini pada golongan gunung – gunung api paling aktif di Jawa. Gunung ini memiliki dua sumber mata air, yaitu sumber air panas yang mengalir ke Cipanas yang kemudian dimanfaatkan sebagai wisata pemandian Cipanas, dan yang satu lagi sumber air dingin yang mengalir ke aliran curug citiis.
Gunung guntur tidak seperti gunung –gunung di daerah tropis lainnya. Gunung ini justru terlihat tandus dan gersang. Jalurnya pun di dominasi oleh savanna dan batuan kerikil kecil sisa letusan.jarang kita menjumpai pohon besar sepanjang lintasan pendakian yang bisa kita gunakan untuk berteduh. Terutama pada lintasan sesudah melewati curug citiis. Medan yang tandus dan gersang membuat gunung guntur lebih dikenal karena cuacanya yang liar. Tekanan angin dan suhu udara yang panas, bahkan bisa di bilang ganas. 
Untuk mendaki gunung guntur, kita bisa melalui jalur curug citiis, yang berada di kampung citiis, kecamatan Tarogong kaler, Kabupaten Garut. Jalur pendakian ini merupakan jalur terpendek dan termudah yang ditemukan oleh Frans Junghun. Jalur ini selain melewati air terjun atau curug citiis, anda juga akan melalui lokasi penambangan pasir citiis yang beroperasi sejak tahun 1960 an." Dilansir dari https://www.facebook.com/permalink.php?id=374250922664458&story_fbid=385830308173186 


Menggunakan sepeda motor pribadi kami berangkat  menuju Garut sekitar pukul 14.00 wib atau jam 2 siang, niatan kami memang ingin mendaki sore / malam hari untuk menghindari cuaca panas di Gunung Guntur . Dari Banjaran kami mengambil  jalan Ciparay tembus ke Cijapati , jalur itu adalah jalur yang kami rasa merupakan jalur paling dekat dan cepat menuju Garut dari daerah kami.
Jam 5 sore kami sampai di Basecamp pendakian , lalu  langsung melapor untuk mengurus perijinan pendakian Guntur. Ini hal wajib yang perlu kita lakukan sebelum melakukan pendakian di gunung manapun, salah satu gunanya adalah untuk memberikan informasi dan data diri kita kepada pihak berwenang di area pendakian tersebut.

Selesai adzan magrib kami memulai perjalanan ,petugas berwenang di basecamp tadi memberikan sebuah peta trek guntur guna mengarahkan perjalanan kami. Oh iya sekedar info saja kalau dulu biasanya suka ada truk pasir lewat nah sering digunakan para pendaki untuk menumpang sampai ke area penambangan pasir bahkan air terjun ( curug ) Citiis, lumayan kan untuk menghemat tenaga.

Tapi menurut info yang saya dapat dari petugas disana sebenarnya sekarang sudah tidak diperbolehkan lagi ada penambangan pasir dengan alasan untuk menjaga kelestarian gunung guntur supaya tidak rusak oleh proyek penambangan jadi sudah jarang ada truk pasir lewat buat tumpangan gratis. Tak apalah, yang penting Gunung ini tetap lestari.

Dari 4 orang di rombongan ini hanya seorang yang tahu trek pendakian Guntur, sementara 3 orang lainnya termasuk saya hanya setia mengikuti si penunjuk jalan. Awal perjalanan kami disuguhi jalur tanjakan curam dengan kemiringan kurang lebih 70 derajat, tanjakan nya sih ga jadi masalah yang bikin sulit itu sebenarnya kontur trek berupa pasir dan kerikil kecil. Sehingga ketika kaki melangkah sulit sekali untuk menapak dengan baik, jujur saja ditanjakan ini energi saya rasanya terkuras sangat banyak.

Selesai menaklukan tanjakan ekstrim tadi dengan susah payah kami kemudian memasuki semacam kawasan yang dipenuhi hutan pinus , kata teman saya si penunjuk jalan dari sini kami memang harus terus mengambil jalur kanan sampai menemukan sebuah air terjun / curug. Baru dari air terjun itu tandanya kita sudah dekat dengan pos-pos pendakian yang lain.
Beberapa jam berada dikawasan hutan pinus itu saya merasa heran dengan jalur yang kami lalui, saat itu kenapa sama sekali tak ada satu pendaki pun yang berpapasan dengan kami atau paling tidak satu tenda saja yang berdiri, kemudian kenapa jalur nya terlihat seperti tidak pernah dilalui orang lain,

Akhirnya saya bertanya kepada si penunjuk jalan " Bener teu jalur pendakian na nu ieu, naha asa aneh ? ( Bener ga jalur pendakian nya yang ini, kenapa terasa aneh ? )" .

Kalian tahu jawaban dia? " Urang poho deui trekna basa eta mah teu kieu , hese naek peuting mah, urang ge teu bisa maca peta na. (  aku lupa lagi jalurnya waktu itu ga kayak gini, sulit naik malem,. Aku juga ga bisa baca peta nya."


Okey terima kasih banyak!! saat itu kita nyasar jauh dari jalur pendakian guntur yang sebenernya.

Sue kenapa baru bilang sekarang coba bingung sama jalur, kenapa pas udah jauh, kenapa pas tenaga udah kekuras banyak,kenapa pas stok air tinggal nyisa dikit, kenapa ga dari tadi broo ah yaelah..!!

Cape ngubek-ngubek nyari jalan dikawasan pinus ini akhirnya kami putuskan kembali turun sampai titik awal pendakian karena akan berbahaya jika terus memaksakan diri dengan kondisi seperti saat itu. Dalam perjalanan turun tau-tau kami bertemu beberapa orang yang ternyata nasib nya sama seperti kami alias nyasar juga haha, untung saja mereka ketemu kami jadi bisa kami kasih tau kalau jalur yang ini salah kalau ngga mungkin mereka bisa nyasar lebih jauh lagi. Dari sini kami barengan turun ke titik awal pendakian dan nyari jalur yang bener. Seinget saya kalo ga salah saat itu rombongan nyasar terdiri dari 4 orang rombongan kami, 6 orang rombongan dari Garut, belasan orang dari Karawang.

Kalau dipikir-pikir lagi lucu rasanya saat itu puluhan orang nyasar barengan ga ada yang inget jalur, ga ada pula yang bisa baca peta dengan bener, sehingga beberapa kali kami terus terusan nyasar salah jalan. Naik, turun lagi,naik lagi, turun lagi, haha untungnya karena rame-rame jadi ga ngerasa panik.

Ketika jam sudah menunjukan pukul 12.30 / setengah satu dini hari, rombongan kami memutuskan menghentikan pendakian lalu segera memasang tenda di tengah trek. Kondisi badan masing-masing dari kami sudah tidak memungkinakan untuk terus melanjutkan pendakian jangan kan memaksa sampai ke puncak, melangkah beberapa langkah pun sudah terasa sangat berat maklum lah kami baru nyasar berjam-jam lamanya dijalur dengan tanjakan-tanjakan ekstrim tanpa makan dan ngemil selama perjalanan. Disamping itu juga alasan lain kami menghentikan perjalanan adalah karena kabut tebal mulai turun, ini akan tambah mempersulit perjalanan. Badan sudah terasa pegal, perut terasa sangat lapar, pandangan juga sudah mulai kabur karena kelelahan .

Biar saja kami tak bisa berkemah dipuncak bersama pendaki lain, juga tak bisa menikmati moment sunrise besok pagi, yang penting  sekarang bisa segera berbaring melepas lelah juga kesal yang kami rasakan seharian ini.


..............



Jam 07.00 pagi kami sudah terbangun dengan rasa gedek yang masih tersisa sedikit karena teringat keapesan kami kemarin. Kami berembuk apakah akan tetap melanjutkan pendakian sampai puncak atau kembali turun untuk kemudian pulang kerumah. Tentu saja tak ada satu pun dari kami yang menghendaki untuk turun dan pulang, kami semua masih ingin menaklukan gunung ini. Perjalanan kami lanjutkan setelah selesai sarapan, mengisi persediaan air, membereskan kembali tenda dan barang-barang. 

Karena khawatir akan barang-barang dalam tenda, sebelum pergi kami titip tenda kami ke tenda tetangga. kebetulan ada dua orang mbak-mbak yang ga kuat buat muncak. Hehe lumayan bisa lebih hemat waktu kalau muncak ga bawa barang-barang berat. Lagi pula tampang mbak-mbak itu keliatanya bisa kami percaya, mereka baik juga ramah.

Tepat jam 08.00 pagi kami kembali melanjutkan pendakian. Dari tempat camp ke puncak 1 kami membutuhkan waktu 2 jam setengah, dari puncak 1 ke puncak 2 kami butuh 30 menit. 
Di puncak dua kami hanya menghabiskan waktu 45 menit untuk sekedar foto-foto ,dan bersantai sebentar kemudian kembali turun ke tempat tenda berdiri. Waktu itu kami tak sempat muncak sampai puncak 3 karena kabut tebal lagi-lagi turun dan ga mau ngilang jadi kami rasa akan percuma kalau pun sampai muncak ke puncak 3.

Dari puncak 2 sampai tempat tenda kami butuh waktu kurang lebih 1 1/2 jam sampai 2 jam perjalanan turun memang selalu lebih cepat dari ketika pas naik. Tapi walaupun memang lebih cepat  sekedar informasi dari pendapat pribadi saya, trek guntur itu terasa lebih sulit ketika turun dibanding ketika naik . Kembali lagi karena kontur trek pasir dan kerikil yang membuat terasa sangat sulit, juga ditambah disekitar trek tak ada akar pohon yang cukup kuat untuk kita bisa berpegangan disitu hanya terdapat alang-alang. Susah sekali menahan diri untuk tidak jatuh/tergelincir.
Silahkan agan coba aja sendiri nanti hehe..

Sampai di tenda kami habiskan 45 menit untuk memasak mie guna mengganjal perut yang sudah kembali kosong. Lalu lanjut turun balik ke basecamp pendakian. Dari lokasi tenda kami ke basecamp kami habiskan 1 1/2 jam .

Ini termasuk pendakian jenis ngebut nan ekspress, tidak disarankan untuk kalian tiru karena essensi naik gunung dan menikmati alamnya jadi ga dapet hahaha.




Hati-hati di Gunung Guntur sudah banyak kejadian kurang mengenakan, banyak yang kehilangan barang bawaan seperti handphone, sandal,sepatu,dll. Diantaranya terjadi saat para pendaki sedang summit dan tenda di tinggalkan tanpa ada yang menjaga atau saat malam hari ketika pendaki sedang tertidur. Bahkan terkadang tenda sengaja disobek dengan pisau agar bisa mengambil barang-barang yang ditinggal didalam tenda. Kunci nya tetap selalu waspada dan hati-hati.
 Salam Lestari.




View Garut dari Guntur

View Garut dari Guntur ( sayang cuaca jelek )

View Gunung Guntur
Gunung Cikuray dilihat dari Guntur

Cikuray tertutup awan

Berfoto di tugu titik Gps puncak 2 Guntur  ( dibelakang itu kabut bukan tembok kamar ya )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar